Akhir kisah percakapan tuan dan nona
''Semoga senantiasa angin baik berhembus kepada mu'' Kata tuan sebagai kalimat penghiburan pada nonanya.
Doa tuannya itu dibalas dengan suara sendu, "kalaupun musim gugur yang datang, semoga bunga yang jatuh padamu, bukan daun layu."
Kata-kata perpisahan, sekaligus ungkapan kasih sayang antara tuan dan nona.
Percakapan malam itu panjang dengan untaian kata tersusun dengan makna di dalamnya.
Semoga tak ada lagi tangis, tak ada kebencian. Aku tetap aku. Matahari jika jumlahnya seribu maka tidak bermakna-El.
Balasan tuannya, yang terkesan cuek dan tak peduli. Biar kau tahu perjalan anarki bacaannya. Bayangan kisah el dan sekar gambarannya.
Nona itu menjawab dengan tabah, Bukan tangis sedih, sekarang tangis kenangan, semoga terkenang manis.
Ketika seseorang menangisi mantan kekasihnya. Sejatinya yang ia rindukan adalah kenangannya, bukan orangnya~sujiwo tejo. Hibur tuannya.
Sungguh tuan nona mu ini tak ada benci, juga bukan dengki, kadang hati muncul rasa iri, aku berenti untuk untuk selalu menangisi semua cerita masa lalu dengan tuanku, tapi sabar tuan ada saatnya tapi bukan sekarang.
Dengan lembut tuan yang kini menjadi kenangan menjawab "Degup jantungku masih sama seperti kita berdua nona."
Malam itu percakapan berakhir dengan kalimat perpisahan sekaligus pesan dari sang nona. Ingat tuan nona mu ini pamit, dia tidak hilang hanya saja sedang pulang, pulangnya tak tahu kemana, yang jelas bukan bersama tuan lamanya, pintunya sedang ditutup sampai muncul pelangi keseribu.

Komentar
Posting Komentar