Rindu Setengah Windu
Untukmu,
Yang namanya selalu kurindu selama setengah windu.
Terimakasih atas pelajaran singkat tentang temu yang berujung buntu,
Tentang bahagia yang berakhir duka,
Tentang tawa yang menjelma air mata,
Dan tentang hati yang terikat namun terlepas.
Aku tak pernah menyesal karena dipertemukan olehmu, sebab melaluimu aku mengerti bahwa mencintai bukan hanya tentang seberapa lama bersamanya, namun tentang bagaimana caramu memperlakukannya.
Kau memang menggambarkan luka, namun kau juga yang mewarnainya dengan bahagia.
Sampai tiba dimana aku memilih untuk menjadi kanvas putih yang enggan dilukiskan kembali olehmu.
Ya. Benar. Aku berenti di atas segala tentangmu.
Karena nyatanya yang paling menyakiti bukanlah seseorang yang telah pergi, tetapi harapan diri yang tetap berdiri walau telah mati.
Tenang saja kau akan tetap ada dalam ingatanku, meskipun hatiku telah enggan untuk menerimamu.
Datanglah kepadaku saat kau jatuh, aku akan tetap ada walau rasa tak lagi sama.
.
.
.
Ah, sial. Kamu ini sedang mencintai atau mematikan hati?! Lihatlah! Manusia ini sedang mencoba terlihat baik di hadapan orang yang jelas melukai.
-Reiko

Komentar
Posting Komentar