Kisah Setumpuk Puntung Rokok

 


Bau apa ini? 

Seperti bau duit terbakar?

Oh itu ternyata, benar rupanya,

Bau duit terbakar. 

Sudah berapa lama dibiarkan bertumpuk seperti itu? 

Mau ditumpuk sebanyak apa lagi, mau sampai timbul rasa penyesalan karena menghamburkan uang? 

Oh tentu tidak, itu bukan uang itu abu rokok dan puntungnya yang tersisa. 

Dibeli pakai daun? Atau pakai kertas? 

Tentu pakai kertas yang bernilai mata uang. 

Lalu apa sebutan kertas yang bernilai mata uang itu? Kertas buram?

Duit.

Sudah jelas kau bakar duit, lalu bertumpuk di sudut sampai rasa penyesalan datang karena menghamburkan uang. 

Diam. Biarlah aku dengan puntung rokokku dan cerita kehidupan di setiap asapnya. 

Apa melalui asap itu cerita hidupmu didengar semua orang?

Tidak. Tentu tidak. Asap hanya bentuk keluh kesahku, lalu puntung ini sebagai akhir keluhku. 

Terserah. Ukirlah kisah indah dengan puntung rokokmu itu. Sebarkan asapmu. Dan berhenti menghampiriku dengan bau tembakaumu itu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa malunya seorang wanita adalah mahkota

Bahaya Tidur pakai Kipas

Siapa Kamu? Wanitakah atau Perempuan?