KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN (KAJIAN DURROTUN NASHIHIN)
Kata Romadhon merupakan mashdar dari kata Ramadha yang artinya terbakar. Bulan ramdahan disebut demikian barangkali orang ynag berpuasa pada saat itu merasakan kelaparan atau kehausan atau juga karena terbakarnya dosa pada waktu itu. Ada juga yang berpendapat bahwa pada saat itu terjadi pada musim ramadh atau musim panas.
Diriwayatkan pula bahwa lembaran-lembaran Ibrahim As. Diturunkan pada malam pertama bukan ramadhan, sedang kitab taurat diturunkan 700 tahun setelah lembaran Ibrahim As pada malam ke 6 ramadhan. 500 tahun setelah kitab Taurat diturunkan kitab Zabur pada malam ke dua belas. Pada malam ke 18 bulan ramadhan 1200 tahun setelah Zabur, diturukan kitab Injil. Sedangkan Al-Furqon (Al-Qurán) pada 27 ramadhan, 620 tahun sesudah kitab Injil.
Beberapa keutamaan bulan Ramadhan banyak diceritakan dalam hadits maupun cerita-cerita lain di kitab ini. Diceritakan dari Hafshah Al-Kabir, bahwa dia berkata: Daud ath-Tha’I berkata: “pernah saya tertidur pada malam pertama bulan Ramadhan, maka saya bermimpi seolah saya melihat surge seolah olah saya sedang duduk di tepi sungai terbuat dari mutiara dan intan, ketika itu saya tiba-tiba melihat bidadari bidadari syurga yang wajahnya cemerlang bagaikan matahari. Maka akupun berucap “Laa ilaaha IllaAllah, Muhammadurroshulullah” . Kemudian mereka mengatakan:”kami adalah kepunyaan orang-orang yang memuji Allah, orang yang berpuasa, ruku’dan sujud pada bulan ramadhan.”
Maka dari itu Rasulullah SAW bersabda: “Surga itu rindu kepada empat orang: Orang yang membaca Al-Qur’an, orang yang menjaga lidahnya, orang yang memberikan makanan pada oranh yang kelaparan dan pada orang orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan” (Raunaqul Majlis).
Masih banyak lagi keutamaan yang ada pada bulan ramdhan dalam kitab Durrotun Nashihin yang akan ada pada artikel selanjutnya. Jazzakumullahu Khoiron.

Komentar
Posting Komentar